Pukul Dua Dini Hari

Tahu berapa banyak aku mencintaimu? Sebanyak langkahmu yang terus bertambah. Meski tanpa kamu sadari, meski telah ada ribuan jejak membekas setiap hari.

Aku, dia, kami. Berdua dengan hanya berbekal kata ”Iya,” berjalan bersama sudah lebih dari setahun. Apa aku mencintainya? Iya. Apa aku merindukannya? Iya. Setiap waktu. Apa aku memujanya? Iya, bahkan aku lebih mementingkan dirinya dibandingkan dengan keluargaku.

”Harusnya kamu nggak perlu hujan-hujanan begini, aku nggak akan mati cuma karena melewatkan makan malam sekali.”

Aku memerhatikan kelesuan di wajahnya. Kantung matanya menghitam, rambutnya kusut seperti belum keramas tiga hari. Meja kerjanya berantakan. Hanya ada satu gelas kaca bening yang sudah kosong, dan asbak berisi satu puntung rokok, di samping banyaknya kertas-kertas penuh angka yang menutupi hampir seluruh permukaan meja.

”Kamu sekarang ngerokok? Sejak kapan?”

Dia menengok sebentar ke arah meja lalu tersenyum sambil menggeleng pelan. Butuh semenit untuk tahu jawaban dari dua pertanyaanku.

”Iya, sejak hari ini. Dan aku terbatuk-batuk selama lima menit setelah hisapan pertama. Aku kapok.”

Pertemuan pertama kami juga berhubungan dengan rokok. Dia yang bukan perokok memilih ke luar dari ruang kerjanya. Lembur malam itu memaksanya harus tetap di kantor, dan teman-temannya tidak mendengar himbauan untuk merokok di luar darinya. Dia mengalah, sama sepertiku. Bedanya, aku mengalah dalam perdebatan mempertahankan usulan untuk iklan yang sedang kami tangani. Proyek ini harus goal, atau aku gagal mendapat izin cuti yang sudah kupersiapkan sejak dua bulan lalu. Prancis adalah satu-satunya tujuanku.
Kami bertemu di lift. Hanya berdua dari lantai delapan sampai ke lobby. Menit-menit yang canggung dilalui tanpa menyapa, meski kami saling memandang lewat pintu lift yang sangat mengilat. Baru setelah pintu terbuka, dia menyapaku, menanyakan tujuanku pergi sendirian malam-malam, dan menawarkan untuk menemani. Sesuatu yang kini tumbuh, ada begitu saja tanpa kami sempat mencegahnya. Sudah lebih dari setahun dari pertemuan di dalam lift malam itu.

”Aku mau ke Prancis lagi, minggu depan,” ujarku pelan. Dia berhenti mengunyah sushi buatanku, menengok sebentar, lalu melanjutkan lagi kegiatan mengunyahnya.

”Nggak perlu izin. Selama kamu senang, aku pasti mengizinkan. Tapi harus ya, ke Prancis lagi? Italy? England? Holland?”

”Semua keluargaku ada di sana. Aku rindu mereka.”

”Kenapa bukan mereka aja yang ke sini? Kenapa kamu ditinggal sendirian di Indonesia?” Nada suaranya sangat datar. Jelas ada aroma protes di sana, hanya saja dia tidak tahu caranya berterus terang.

”Karena kamu. Aku di sini karena kamu. Aku nggak bisa jauh dari Indonesia selama aku masih mencintai kamu.”

Malam sebelum aku bertemu dia, sebenarnya aku sudah ingin menulis surat pengunduran diri. Tapi aku hanya mengajukan cuti, entah karena apa. Kemudian aku bertemu dia yang mengubah pikiranku 180 derajat. Aku masih punya alasan untuk tetap tinggal: dia.

”Kamu masih mencintaiku?”

”Masih. Sejak kamu bilang ‘iya’ sampai detik ini, dan selamanya,” jawabnya.

Pukul dua lebih lima belas menit dini hari. Dan seseorang lupa, bahwa ”selamanya,” hanyalah teori belaka.

Advertisements

2 thoughts on “Pukul Dua Dini Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s