Kenalan Yuk

Berapa banyak harapan yang sudah kamu patahkan?

Basement tersembunyi di bawah tanah. Tempat persembunyian kala dunia atas sedang riuh oleh pesta, nobar, atau ketokan pintu dari debt colector. Who cares? Aku punya surgaku sendiri di sini. Sofa single berwana abu-abu yang sudah lusuh, sebuah meja persegi setinggi lutut, dan sebuah lemari pendingin kecil yang susah payah kumasukan lewat pintu sempit di gudang. Pintu itu satu-satunya akses agar bisa mencapai tempat ini, dan untungnya hanya aku yang mengetahui keberadaannya di kos-kosan ini.

Tapi malam ini kuizinkan satu orang masuk ke sini. Seseorang yang belum lama kukenal, namun sudah begitu menancap di ingatan.

*

Berbekal sebuah foto, aku nekat pergi ke sebuah kantor di bilangan Asia Afrika. Seseorang bilang, tunggu saja di tukang bubur di belakang kantor. Biasanya dia makan bubur dulu sebelum pulang.
Rambutku sudah kupangkas pendek. Potongan nge-bob seperti ini ternyata lebih pas daripada rambut panjang bergelombang, yang selama ini kumiliki.

”Punya korek?” Alisnya yang tebal langsung menyalakan alarm kesadaranku. Dia sudah duduk di bangku depanku, semeja karena tempat ini hanya menyediakan dua meja kayu panjang dan beberapa kursi plastik.

”Saya nggak ngerokok,” jawabnya sambil pandangannya mengikuti gerakan tanganku mengambil rokok.

”Karyawan sini? Mau jadi narasumber saya? Kebetulan saya sedang menggali karakter yang akan dijadikan tokoh utama di novel pertama saya. Mudah-mudahan jadi.”

”Hmm… Mbak serius?”

”Serius. Saya cuma nanya soal kesibukannya kok, saya masih pengangguran jadi belum tahu rasanya ngejar deadline, dimarahin klien, resign.”

”Itu aja? Selama dilakukan di luar jam kantor, mungkin bisa.”

”Deal. Kenalin, saya Kinar. Dan… Mas, siapa?”

”Adri.”

*

Seseorang mengadu padaku di suatu malam, sehari setelah kedatanganku dari Prancis. Dia menangis membicarakan kekasihnya.

”Kok nangis?” Tanyaku. Dia terus menangis sampai dua menit setelahnya.

”Aku benci dia, tapi aku nggak bisa lepas darinya. Aku terlalu membutuhkannya.”

Bir kalengan di depanku masih tersisa dua kaleng. Aku mengingat adegan itu setiap waktu. Pun sekarang di saat selembar foto dari seseorang membawaku lebih jauh dari perkiraan sebelumnya.

”Kamu nggak pantas bahagia.” Aku melemparkan kaleng bir kosong tepat mengenai wajahnya. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, bercampur darah segar yang mengalir di dahi. Pemukul baseball menjatuhkannya hanya dengan sekali hantam saja.

*

”Oke, Adri, aku punya tempat rahasia di dalam. You say yes, and you can do anything to me,” bisikku di telinganya. Mobilku sudah mati sejak lima menit lalu. Rencana awalnya hanya sampai di depan rumah kos, lalu dia pulang dengan menggunakan taksi. Tapi aku punya rencana yang lebih bagus di tengah malam, di musim hujan seperti ini.

”How?” aku mengecup sebentar bibirnya, sebelum dia mengangguk dan mengikutiku ke dalam. I got you.

*

Sudah hampir subuh, dan aku masih belum mau mengakhiri ‘hubungan intim’ kami.

”What is wrong with you!” Serunya.

BAM!

Kepalanku mengenai perutnya, tepat. Dia meringis dan terbatuk tiga kali. Mata kirinya lebam, rambut cepak dan rapi hanya tinggal beberapa bagian. Aku baru tahu kalau pekerjaan memotong rambut sangat mengasikkan. Apalagi jika matamu ditutup.

”Berapa banyak harapan yang sudah berhasil kamu patahkan, Adriano Suryadi? Kita bisa mulai berhitung, dari dia.” Aku menarik selembar foto dari saku jaket. Fotoku dengan seseorang yang tak pernah aku tinggalkan.

”Karina? Kembar? Kalian?”

”Gara-gara kamu, dia jadi gila!” Hantaman yang kesekian kalinya mendarat di ulu hati. Dia makin menggantung seiring tenaganya yang melemah. Ikatan tangan di palang besi di atas kepalanya mengerat, makin melukai pergelangan tangannya yang sudah berdarah.

”Gara-gara kamu, dia harus menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa! Sekarang, nikmati pembalasan dari orang yang sudah kehilangan separuh kewarasannya!”

Desis dari kaleng bir yang baru dibuka, memimpin teriakan-teriakan lain setelah aku menuangkannya di atas bekas sayatan cutter di lengannya. Aku masih punya beberapa kaleng lagi. Hari baru saja dimulai, jadi kenapa aku harus terburu-buru?

Advertisements

2 thoughts on “Kenalan Yuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s