Hari Ibu

Semangkuk soto ayam buatan sendiri untuk siang ini. Apa yang bisa aku harapkan dari sisa makanan yang sudah menginap di dalam kulkas beberapa hari? Gizi? Vitamin? Sampah.

Tapi apa yang buruk dari makanan tanpa kandungan yang menguntungkan untuk tubuh, kalau hatimu merengek meminta pulang, ke hadapan Ibumu?

Aku tidak merayakan hari Ibu, mungkin lebih tepatnya tidak ada perayaan. Aku dan Ibu adalah dua manusia yang tak mementingkan ucapan; “Jika kamu sayang pada Ibumu, maka jangan sakiti hatinya. Hanya itu.” Untuk apa mengatakan hal-hal manis sedang keesokannya aku menyakiti hatinya? Membentak? Melawan dengan seenak jidat karena aku sudah bisa menghidupi hidupku sendiri?

Tidak. Aku memilih diam, sambil mendengarkan apa yang sedang beliau katakan. Menuruti perintah untuk makan yang banyak saat di hadapanku, disodorkannya sepiring penuh nasi beserta lauk. Iya, bilang saja iya, aku akan menghabiskannya meski dalam hati sedang berdoa agar tumpukan karbohidrat, lemak, mungkin juga kolesterol melebur bersama dengan asam lambung di perut.

Ibuku tidak pernah mengizinkan anaknya terlihat sedikit tirus atau kakinya sedikit kurus. “Kamu sudah cukup kurus sejak kecil, Mama sudah bosan melihatnya,” bilangnya saat aku mulai protes dibawakan banyak makanan sebelum aku pulang ke tempat tinggalku sekarang. “Kamu kalau kurus jelek, kayak nenek-nenek.”

Orang tua punya caranya sendiri dalam memberi pengertian pada anaknya. Dengan menakut-nakuti seperti Ibuku, contohnya.

Kami jarang mendebat. Ibu adalah orang yang cerewet, sedang aku adalah pendiam (untuk beberapa orang). Aku hanya akan mengiyakan, terkadang lebih banyak diam (sambil mencoba menghabiskan makanan di piringku). Jika aku sudah mulai menolak, Ibu yang akan bilang “Terserah,” dengan nada ragu-ragu. Beliau enggan memaksakan kehendaknya kalau wajah anaknya sudah sedikit muram, dan ‘terserah’ adalah kata abu-abu yang ada di antara ‘iya’ dan ‘jangan’. Artinya aku yang harus mencari solusinya sendiri, meskipun akhirnya, aku akan menurut pada perkataannya.

Ibu adalah kelemahanku. Airmatanya mungkin adalah hal yang paling tidak ingin aku lihat, meski itu adalah airmata bahagia.

Jadi memang tidak ada yang bisa dipermasalahkan dari semangkuk soto buatan sendiri, jika hatimu sungguh-sungguh sangat ingin menemui seseorang dan sedikit berbincang seperti biasa, tanpa peduli hari ini Hari Ibu atau Hari Ayah. Hanya ingin melihatnya, dan berdoa dalam hati agar wanita yang membenci tubuh kurus itu sehat.

Berdoa agar wanita itu bisa lebih lama lagi ada di dunia, dan menghidangkan seporsi penuh makanan untuk anaknya, meski Si Anak, sekarang, sudah tidak punya banyak waktu lagi seperti dulu.

 

Happy Mother’s Day. Semoga Mama sehat selalu. Semoga anakmu tidak pernah lupa untuk pulang ke hatimu, meski dia sudah memiliki hati lain untuk berteduh, nantinya.

 

Tangerang, Des 22nd 2012.

-R-

Advertisements

One thought on “Hari Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s