You and I

~At times we get sick of love, It seems like we argue everyday~

Dia bilang, aku akan terus lupa. Pada kami, padanya, pada hari-hari di mana kami akan menua bersama. Lalu dia bilang, dia akan terus mengingatkanku, setiap hari, agar rasa cintaku akan memiliki debar yang sama… Seperti saat pertama aku mencuri pandang ke arahnya.

”Kamu bilang, taman belakang itu teritoriku. Aku nggak mau ada kolam ikan atau apalah itu, aku mau di sana dibangun pendopo kecil, dengan ayunan rotan di sampingnya,” protesku saat melihat sketsa kolam ikan buatan di atas meja. Ruang tengah akan disulap menjadi semi Japanese: kolam ikan yang menjorok sampai bawah lantai, ubin akan diganti dengan kaca—yang nantinya bisa merombak nyaris seluruh rumah karena lantai kayu idamannya, belum menemukan spot yang tepat. ”Aku mau halaman belakang untuk kebun bungaku.”

Matanya melirikku sebentar. Sedetik. ”I’am the architect.”

”I’am your wife!”

*

~And though love sometimes hurts… I still put you first… And we’ll make this thing work… But I think we should take it slow~

Dia bilang—pernah, saat hubungan kami baru dua hari—cinta tak akan datang secepat itu. Cinta ada karena waktu.
Tapi untukku, cinta kami hanya sebatas itu. Sudah setahun berpacaran dan hampir dua tahun menikah, kami tak pernah berhenti mengadu argumen. Kami masih egois. Kami bahkan sering abai satu sama lain.

”Kita sudah cukup memberi waktu, apa ini akan berhasil?”

Bahunya setia menjadi sandaran kepalaku malam ini. Di atas lantai kaca transparan di mana ada kolam ikan di bawahnya, iya, aku mengalah. Aku relakan pendopo dan ayunan rotan untuk kolam ikan koi miliknya.

”Pelan-pelan,” jawabnya santai.

”Sudah dua tahun, kamu ingat?”

”Ingat. Sudah dua tahun aku bersamamu. Jatuh cinta setiap pagi denganmu. Menjadi memo berjalan, bertuliskan ‘Kamu istriku’ di dahiku.”

”Lalu?”

”Lalu seterusnya akan seperti itu.”

~As our love advances.. We take second chances.. Though it’s not a fantasy.. I Still want you to stay~

*

~Maybe we’ll live and learn.. Maybe we’ll crash and burn.. Maybe you’ll stay, maybe you’ll leave, maybe you’ll return~

”Ananda Kirani, apakah ananda bersedia menerima pinangan anak bungsu kami, yang bernama Aditya Indrayudha?”

Aku nyaris menangis mendengar ucapan-ucapan dari ayahnya. Dibalut beskap hijau muda, dia tersenyum malu sambil terus menatap mataku. Hari yang mengawali kebersamaan kami yang sebenarnya dimulai. Kami akan membina sebuah keluarga, akhirnya. Kami hanya butuh sedikit ruang untuk tumbuh berdua, untuk saling percaya kalau kami memang punya cinta yang terlalu banyak untuk disimpan sendiri, dan memutuskan untuk berbagi.

~Maybe another fight.. Maybe we won’t survive.. But maybe we’ll grow.. We never know baby you and I~

Dia bilang, tidak akan pernah ada satu haripun cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Karena kami akan memperjuangkannya, bersama. Dari pagi buta, hingga dini hari, dan seterusnya…

-end-

Song: Ordinary People by John Legend.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s