Set Me Free

Aku tak pernah benar-benar bisa keluar dari lingkup yang kita buat dua tahun ke belakang. Jika kamu bukan untukku, tak akan pernah ada kita yang sekarang. Mungkin.

Hujan menggiringku ke tepian, di bawah rimbunan pohon bintaro. Tak banyak yang bisa kuperbuat dengan seragam SMA kuyupku, pun dengan sepatu hitam yang sudah penuh air. Ransel hitam kupeluk erat semata demi buku-buku dan sebuah kotak yang akan kuberikan untuknya nanti malam. Sebuah jam tangan hasil menyisihkan uang jajan selama dua bulan sebagai hadiah kelulusan dan anniversary kami.
Air hujan sedikit menyamarkan dua muda-mudi berpayung oranye di seberang jalan. Charice, teman sebangkuku, terlihat tetap menawan meski sedikit direpotkan dengan cipratan air ke kakinya yang jenjang. Blasteran Belanda yang baru pindah dari Bandung itu menggandeng lengan seseorang berkaus Star Wars hitam di sebelahnya. Dia.

”Tunggu,” tahanku setelah mereka menyebrang. Kedua pasang mata di depanku melotot kaget dan saling melepaskan gandengan yang sejak tadi seperti lem dan sol sepatu. ”Kita putus!”

Airmata bercampur hujan, cipratan air yang sembarangan kuinjak tak kupedulikan. Aku hanya ingin terus berlari, menjauh dari kenyataan.

**

~Something always brings me back to you. It never takes too long. No matter what I say or do I’ll still feel you here ’til the moment I’m gone~

Rumah bercat putih, tertancap bendera kuning di pagar depannya. Tenda berwarna hijau terpasang gagah, belum lagi kursi-kursi berjajar sampai menutupi jalanan.

”Jen, terima kasih sudah datang.”

Aku menengok kaget dan menemukan wajah berbeda dibandingkan biasanya. Matanya sembab, kemeja hitam melekat sendu dengan senyum yang sengaja dikembangkan. Masih bisa kulihat sisa kesedihan di pojok matanya yang menggenang, lalu jatuh setetes. Dia buru-buru berpaling, menghapus airmatanya dan kembali menatapku dengan senyum pilu.

~I never wanted anything so much than to drown in your love and not feel your rain~

”Ibu sudah pergi, Jen. Aku sudah kehilanganmu, lalu Tuhan mengambil ibu dariku…”

Setelah diamnya sejak aku datang siang tadi, akhirnya dia membuka mulut dan bercerita tentang kesedihannya. Sudah banyak airmata keluar dari dua mata cokelat tuanya, sudah pula dia sibuk tersenyum berpura-pura baik-baik saja.
Mengingatkanku saat kami masih bersama. Aku pernah ada di posisinya, dan dulu dia di posisiku sekarang. Saat ayahku koma di rumah sakit, dia menemaniku menangis semalaman. Aku pernah merasakan ketakutan akan kehilangan, ketakutan berjalan sendirian sampai aku tua tanpa ayahku.

~You loved me ’cause I’m fragile. When I thought that I was strong. But you touch me for a little while and all my fragile strength is gone~

”Aku harus bagaimana sekarang? Aku sudah kehilangan kalian berdua…”

Kudekap dia lagi, lebih erat dari sebelumnya, dan tak acuh pada sakit hatiku padanya. Mengalirkan sedikit kehangatan dan kewarasan yang masih kupunya, sembari mengingat-ingat berapa banyak cinta yang sempat kami tinggali sebelum kejadian sebulan lalu.

~I live here on my knees as I try to make you see that you’re everything, I think I need here on the ground. But you’re neither friend nor foe though I can’t seem to let you go…~

Pintu kamarnya dibuka paksa hingga daunnya membentur tembok. Sosok tinggi, putih, dan langsing muncul dengan wajah panik. Rambut panjang bergelombang miliknya tak pernah kusut, pun wajah blasteran yang selalu terlihat segar.

”I’m sorry…”

Kata-katanya terputus saat melihat keberadaanku di sebelah lelaki yang sedang berkabung ini. Ada raut takut yang ditutupi, ada kekagetan yang langsung dialihkan ke arah si empunya kamar.

”Charice, aku sudah menunggu sejak tadi. Kamu ke mana saja?” lelaki di sebelahku beranjak, kemudian mengecup bibirnya sebentar sebelum memeluknya. Dan pada akhirnya, mereka menjatuhkanku sekali lagi. Menyesaki napasku dengan rasa sesal yang harusnya suudah bisa kutebak akan datang.

~The one thing that I still know is that you’re keeping me down. You’re on to me, on to me, and all over…~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s