Langit pun Tersenyum

Pekan ini kami ada di perairan Sulawesi Tenggara. Dengan air biru jernih, serta isi laut seperti surga. Orang darat menyebutnya Wakatobi.

Harpoon (1) milik Bapak masih basah. Ikan-ikan yang didapatnya juga masih segar. Entah kapan Bapak naik dari dasar, karena aku selalu menyibukan diri untuk menghilangkan rasa bersalah terhadapnya.
Suku Bajau pasti pandai berenang, bahkan kami kuat menyelam dalam waktu lama meski tanpa bantuan alat apapun. Kami hidup di atas laut, sejak lahir sampai meninggal. Namun aku. Aku takut berenang, aku takut ada ular besar memakanku saat aku melompat ke air—seperti mimpi lima tahun lalu.

Aku menangis meraung-raung saat Bapak ingin mengajariku berenang, kala itu. Aku bisa. Hanya saja aku takut menjauhi perahu kami ataupun menyelam terlalu dalam dan lama. Ada ular besar yang siap melumat tubuhku bulat-bulat, seperti mimpi malam sebelumnya. Sejak itu aku tak pernah jauh dari perahu kami.

Sudah lima tahun, dihitung dari usiaku saat itu yang baru tiga tahun. Dan sekarang aku sudah delapan tahun saat rasa maluku pada Bapak memuncak.

”Hendak ke mana?” Tanyanya melihatku berdiri mematung.

”Cari ikan,” jawabku singkat. Dia memandangku tidak percaya, lalu membawa masuk ikan-ikan kecil untuk dimasak ke dalam tanpa menoleh. Sudah kuduga. Dia tak akan percaya kalau aku berani menyelami laut.

”Di bawah banyak ikan bagus,” kata Bapak lima tahun lalu—mencoba memberiku dorongan. Hanya kepalanya yang bisa kulihat terombang-ambing, sedang tubuhnya sudah tenggelam di dalam air. ”Ada penyu yang ke mana-mana bawa rumah, seperti kita.”

Tapi hari itu sudah lewat begitu lama. Bapak mungkin sudah bosan mengatakannya. Aku membenamkan wajah ke dalam air, mencoba mengintip isinya. Ada ikan bintik-bintik hijau berenang bergerombol keluar dari bawah perahu, yang dalam sekejap menjauh dari pandangan.

”Di bawah masih banyak yang lebih bagus,” suara Bapak mengagetkanku dari kekaguman yang belum hilang. Dia berdiri di belakangku, mungkin sedari tadi. ”Dan tidak ada ular besar di laut. Percayalah.”

Aku menelan ludah. Ketakutanku membuat keringat dingin menetes di pelipis mata. Kemudian kusapukan pandangan ke seluruh hamparan air di Wakatobi, dan berhenti pada sosok tua di depanku. Dia mengangguk yakin sambil tersenyum.

*

Harpoon di tanganku sudah berkali-kali tertancap ikan buruanku. Hari ini perahu kami meninggalkan laut biru, penyulut keberanianku. Wakatobi menjadi awal dari kehidupan seorang dari Suku Bajau, menjadi Suku Bajau sepenuhnya.

”Kita hidup dari laut, kita hidup dengan laut,” Bapak menyunggingkan senyum itu lagi, sebelum perahu kami menjauh dari pantai Pulau Hoga.

Langit pun tersenyum, dengan birunya serta matahari yang memantulkan kilau air di perahu tempat tinggal kami. Rumah kami akan mencari laut baru untuk ditinggali sejenak, seperti biasanya.

-end-

1). Semacam tombak.

Advertisements

One thought on “Langit pun Tersenyum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s