Memori Tentangmu

Udeng putih di kepala, tidaklah
mencerminkan jernihnya pikiran Bapak, Nak. Buktinya, Bapak bisa sekejam itu pada anak Bapak sendiri.

Pura Besakih masih setenang ini saat kamu mengenakan udeng pertama, di atas rambut hitam yang Ibumu ikat rapi.

”Kita mau sembahyang kan, Pak?” Tanyamu riang sambil melompat-lompat. Bapak menggandengmu berjalan sepanjang trotoar, menerobos kerumunan orang-orang berpakaian sembahyang adat Bali, menuju pura ini.

*

Rambut hitammu sudah sepunggung saat Upacara Panca Bali Krama, sepuluh tahun kemudian. Juga terikat rapi, dengan udeng seputih milik Bapak. Saat itu, kamu sudah tidak melompat girang lagi; kamu memilih duduk tenang di teras sambil memainkan bunga kamboja.

*

Rambut hitammu sudah sepinggang. Tidak lagi diikat dan disisir oleh Ibumu. Ibumu sudah meninggal karena sakit jantung—mendahului Bapak, namun tak ada kekhawatiran saat itu. Rambutmu digelung rapi, dan kamu pintar berdandan. Meski mengenakan udeng, bunga kamboja selalu terselip di salah satu sisinya.

”Aku ingin menikah, Pak. Dengan Jason,” ucapmu setelah kita keluar dari Pura Dalem Puri Besakih, di Upacara Panca Bali Krama sepuluh tahun kemudian. Bapak tak menghiraukanmu, bukan?

Bapak ingin kamu menikah dengan orang Bali, bukan dengan laki-laki berkulit putih dari negeri antah berantah. Dan kalau saja Ibumu masih hidup, dialah orang yang akan menjadi penengah kita. Bapak tidak akan pernah mengusirmu dari rumah. Bapak pasti mengalah pada kata-kata lembut Ibumu, Nak.

*

Rambutmu tinggal sebahu. Masih hitam. Sayangnya tidak serapi sepuluh tahun lalu, saat kamu mengutarakan keinginanmu menikah dengan laki-laki yang mencampakanmu. Tidak ada bunga kamboja terhias manis di kepalamu, juga udeng putih seperti milik Bapak. Orang bilang kamu gila, Nak. Dan Bapak mulai menambah doa untukmu di hadapan Dewa; doa untuk kesembuhanmu.

*

Pura Besakih tempat kita pernah berjalan beriringan, dan berdoa bersama… Masih tenang dan mendamaikan. Sudah lima tahun Bapak berdoa untuk kesembuhanmu, dan sudah pula Bapak menyerah.

Udeng putih di kepala Bapak masih putih bersih. Tapi kamu tahu kalau pikiran di dalam kepala Si Pemakai, tidak seputih itu. Buktinya Bapak tega mengusirmu, hanya demi ego.
Di sini, di Pura Dalem Puri Besakih, Bapak masih berdoa untukmu. Untuk putri Bapak yang berambut hitam dan disisir rapi saat akan sembahyang. Untuk kamu yang Bapak hadiri upacara terakhirmu… Untuk kamu yang sudah menjadi abu…

*Ditulis untuk #15haringeblogFF2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s