Aku Kembali

Surabaya Old Town Area memaku langkahku yang tadinya terburu-buru. Aku harus sudah menyebrang ke Madura sore ini, dan tempat ini menarikku seperti magnet bertemu bijih besi.

Aku kembali. Aku sengaja masuk ke dalam luka yang sudah setengah mati kututupi. Menatap laki-laki itu dari kejauhan sambil menguatkan diri. Kakiku beku, kedua-duanya. Amarah seperti lava pijar yang meletup-letup, menunggu waktu untuk memuntahkan kawah panas dan mematikan.

”Ampun, Mas. Jangan, tolong,” pintaku. Peluh membasahi sekujur tubuh. Aku ketakutan. Di rumah sepi dan terpencil ini, aku sedang mencoba menyadarkan kakak tiriku dari godaan hawa nafsu.

Tapi siang itu tak pernah bisa dicegah. Yang kutakutkan terjadi, membawa trauma sampai umurku seperempat abad hingga kuputuskan untuk kabur ke Madura enam tahun lalu. Sakitnya seperti baru saja kualami, bahkan hangat air mata yang tiba-tiba menggenang, menampilkan lagi bayangan gelap masa-masa itu.

Laki-laki di balik gerobak bakso, menoleh ke arahku. Sesegera mungkin kupalingkan wajah menghindar dari tatapan mata tajamnya. Kulihat ada anak kecil yang mengekor di belakangnya sedari tadi, juga seorang wanita yang sedang sibuk membersihkan mangkuk kotor. Mungkin dia sudah lupa.

”Mas Aji, sudah? Anak-anak sudah tidak sabar minta pulang.” Istriku menyadarkanku dari lamunan, dan sisa-sisa perbuatan kotor kakak tiriku yang masih tersisa.

-end-

*Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s