Ramai

Ajining rogo seko busono.

Kadang aku tertunduk malu. Kadang aku membuang jauh pandanganku dan memilih menghindari keramaian Malioboro. Tapi hari aku aku tersenyum senang, aku mengangkat kepalaku lalu menatap satu per satu mata yang mencuri pandang ke arahku.

”Mbok malu sama aku?” Tanyaku di pinggir ranjang yang terbuat dari kayu. Kelambu hijau pelindung nyamuk, tampak sudah berlubang di beberapa bagiannya dan sangat mengganggu pemandangan. ”Harga diri badan, diukur dari pakaian yang melekat di tubuh, ‘kan?”

Ibu mengusap pipiku yang masih ber-make up. Keriput di sekitar matanya sudah bertumpuk, namun penyakit tuanya lah yang membuat Ibu tak lagi bisa berjalan dan berjualan jamu. ”Kamu pasti capek. Mandi, terus ganti bajumu dulu. Lepas gelungmu juga.”

Aku bergeming. Gelung cepol di kepala, segera kulepas agar pemandangan di mata Ibu sedikit lebih biasa. Kebaya warna oranye dan kain batik pasangannya, harusnya terlihat bagus saat dikenakan. Kebaya bisa menjadi nilai tersendiri, bahkan lebih lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan pakaian biasa.
”Apa Mbok malu? Ajining rogo seko busono, kan Mbok? Ajining rogoku esih iso diukur?”

Ada titik air yang meluncur dari matanya. Mata yang menatap heran ke arahku saat aku memutuskan untuk meneruskan usahanya menjajakan jamu, enam bulan lalu. Reumatik yang menyerangnya, memaksa Ibu beristirahat. Ibu mungkin malu—seperti Bapak yang berpura-pura tidak mengenalku saat kami berpapasan di jalan, hanya dia diam. Ibu memilih diam.

”Siapin kopi buat Bapak. Sebentar lagi dia pulang,” ucapnya, masih mencoba mengalihkan pembicaraan. Kemudian terdengar samar suara ringikan kuda Bapak, dari depan rumah. Hari ini kuda penarik delman kami sedang sakit, Bapak hanya membawanya berkeliling sebentar.

”Jawab, Mbok. Mbok malu seperti Bapak malu sama aku?”

Jarik yang masih tersampir di bahuku basah karena air mata. Air mataku. Kurasakan tangannya mengusap puncak kepala, lalu perlahan melepas satu per satu giwang di kedua telingaku.

”Seperti apapun rupa kamu, kamu tetap anak laki-laki Mbok satu-satunya.”

-end-

*Untuk #15HariNgeblogFF2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s