Sehangat Serabi Solo

Pelukannya mengendur. Keringat tampak membasahi poni hingga terlihat lepek, meski jepit rambut Hello Kitty berwarna merah muda sudah berusaha menyembunyikannya.

”Papa, masih lama?” Tanyanya. Kepalanya terkulai di bahuku, dan matanya sudah setengah terpejam. Aku meletakkan kantung plastik hitam besar berisi bahan kebaya di pojokan toko, lalu menarik kursi plastik merah sekedar untuk melepas lelah setelah seharian berkeliling Pasar Klewer.

”Kakak makan serabinya aja, ya,” rayuku sambil menyodorkan plastik berisi serabi. Matanya terbuka, dengan malas dia mengambil sebuah kemudian membauinya. ”Kenapa? Baunya nggak enak?”

Dia menggeleng pelan. ”Serabinya masih hangat, kaya pelukan Papa.” Dengan serta merta dia memelukku lagi. Kemeja putih yang kukenakanpun menjadi korban bocah berumur lima tahun, yang dengan jahilnya mengelap bibir celemotan di dadaku.
”Udah, yuk. Batiknya lengkap, tinggal dibawa ke tukang jahit aja.”

Akhirnya, persiapan pernikahan dengan Ibu bocah di pangkuanku ini lengkap. Aku tinggal menunggu hari di mana panggilan ‘Papa’ bukan hanya sebuah spontanitas dari anak kekasihku.

*Untuk #15HariNgeblogFF2 #day6 (yang telat)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s