Sepanjang Jalan Braga

Biasanya, Ibu akan memelukku dengan
senang meski peluh membasahi tiap senti
kulitku. Biasanya, Ibu akan mengatakan
kalau aku pintar meski aku tidak bisa
membaca di umurku yang sudah delapan
tahun. Biasanya, Ibu menyambutku dengan wajah cemas di rumah saat aku terlambat pulang.
Bandung ramai. Bagus. Ini yang aku
harapkan setiap hari. Setiap pagi, sampai
malam. Dari hari senin yang sering dicaci,
sampai minggu yang terus dirindu. Aku
dengan gitar kecil yang kubeli dari
memecahkan celengan ayam, mencari seribu dua ribu untuk Ibu. Di sini, di trotoar
berwarna merah yang sedang kutapaki
dengan sandal jepit beda warna, di sepanjang
Jalan Braga.

”Hati-hati,” bilangnya setiap pagi.

Biasanya, aku akan mencium punggung tangannya, mengusap wajah pucat itu dan berdoa agar saat aku pulang nanti, dia masih ada. Menyambutku di depan pintu reot kami, dan menyuruhku bergegas mandi. Selalu ada air hangat untukku, tiap malam. Katanya, dia tak akan pergi ke mana-mana. Katanya, dia pasti beristirahat demi sembuh dari batuk menahun yang dia derita. Dan biasanya, aku percaya.

Minggu kedua di bulan Juni, dibasahi hujan sedari pagi. Baju setelan bergambar Spiderman berwarna putih—tadinya, sudah kuyup dan membuatku mengigil. Kanopi pertokoanlah satu-satunya tempatku berteduh barang semenit, sambil menunggu lampu hijau berubah merah. Kupicingkan mata ke seberang jalan. Ada gambar jarum yang dililit gambar ular, terpampang jelas meski titik-titik air masih terus berjatuhan.

Benar. Aku harus mencari uang lebih giat lagi. Obat Ibu sudah habis, dan biasanya membutuhkan waktu seminggu untukku mengumpulkan uang. Mungkin, kalau aku tak melewatkan satupun nyala merah di atas sana, aku bisa membeli obat hanya dalam waktu empat hari. Benar.

”A’a mau nyebrang?” Tanyaku pada laki-laki di sebelahku. Hujan tak membuatnya menyingkir ataupun berpikir untuk menikmati kopi hangat di ruangan tertutup.

”Nggak. Cuma lagi ngitung angka di atas itu, biar tahu lampu apa yang sedang menyala.”

Hijau. Jelas itu lampu hijau. Tapi kepalanya masih menatap ke tiga lampu, sambil bibirnya bergumam angka yang berjalan mundur di atas.

Hujan makin lebat. Seingatku, baru ada dua lembar seribuan dan beberapa koin di kantung yang masih kucoba lindungi dari air. ”Ibu!” Mataku memaku pandangan di seberang zebra cross. Seorang wanita tua melambai ke arahku. Baju cokelat bermotif bunga yang katanya panas kalau dikenakan, terlihat jelas. Mata cekung dengan kelopak berwana kehitaman juga mempertegas kalau dia adalah benar Ibuku.

”Ehh!” Laki-laki itu menarikku saat kakiku baru melangkah dua tapak. ”Kamu nggak lihat angka di atas masih lima belas?! Ini masih lampu hijau, bahaya!” Tangannya menggenggam lenganku kencang. Sedang mataku mencari-cari lagi sosok Ibu di seberang sana. Hilang.

Ibu bilang, dia akan memasak air hangat untukku mandi. Katanya, dia juga akan beristirahat di rumah. Setiap malam, dia akan memijit kakiku yang seharian sudah kubawa mencari uang di Braga. Setiap subuh, dia akan membangunkanku dengan bau nasi yang baru matang. Dan dia bilang, aku adalah anak yang pintar.

Ibu bilang, dia akan menungguku di rumah. Tapi dia tak pernah sekalipun bilang, kalau suatu hari, hanya jasad di dalam kerandalah yang akan menyambutku kala aku pulang ke rumah.

-end-

*Ditulis untuk #15HariNgeblogFF2

Advertisements

6 thoughts on “Sepanjang Jalan Braga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s