Kerudung Merah

”Ini ikan apa, Opung (1)? Belut?”

Pemuda itu membolak-balik ikan sebesar telapak tangan di dalam perahuku. Toba makin ramai oleh pelancong-pelancong dari luar daerah seperti dia, meski jarang yang berani meminta ikut nelayan mencari ikan—juga seperti dia. Celana panjangnya dilipat sampai di bawah lutut, sedang tas punggung dan sepatunya dititipkan pada istriku di pinggir Toba sebelum perahuku berangkat.

”Itu ikan Betutu. Sembarangan saja kau bilang belut, kau pikir ini sawah?” Ujarku sambil menancapkan besi sepanjang lengan dalam-dalam di pinggiran Samosir. ”Ini yang ngasih makan Opung tiap hari.”

Dia masih memegang hasil pencarianku hari ini. Orang kota sepertinya memang wajar kalau memandang ikan segar seperti berlian yang tumbuh di padang pasir. Di kota, ikan sudah tak berbentuk ikan lagi. Mana tahu mereka bentuk ikan segar seperti apa. ”Kau nggak jalan-jalan sambil foto-foto macam turis lain? Toba itu surga untuk orang kota.”

Dia terkekeh, lalu menyapu pepohonan di Samosir sampai pinggiran Toba di ujung sana. ”Dimataku semua sama saja, Opung. Air Toba yang katanya hijau dan biru saja, aku nggak tahu seperti apa.”

Perkataannya tidak bisa kumengerti. Aku pikir matanya baik-baik saja. Tidak buta, juling atau apalah itu namanya. Fisiknya pun masih jauh lebih muda dibandingkan dengan kakek-kakek sepertiku yang otaknya, mungkin sudah kempes separuh saking lamanya berjemur matahari di atas Toba. ”Maksud kau apa?”

”Buta warna, Pung.” Aku mengernyitkan dahi heran. Malang sekali nasibnya. Sudahlah tinggal di kota yang sumpek, buta warna pula. Lalu apa yang dia cari di sini, di mana orang lain begitu mengagung-agungkan alam Toba dan Samosir?

”Lagian, tadinya aku hendak berenang, Pung. Tapi batal. Ada anak kecil tenggelam,” lanjutnya.

”Anak kecil? Macam apa rupanya dia? Tega kali orang tuanya. Ya begitulah kalau lalai, dikira aman anak kecil dilepas sendirian.”
”Perempuan. Dia pakai kerudung hitam. Tapi untungnya masih nafas, jadi sepertinya bisa diselamatkan.”

Kuputuskan untuk duduk sebentar. Membuka bekal dalam rantang kecil yang selalu kubawa tiap kali mencari ikan. Pemuda itu mengeluarkan rokok dan koreknya dari kantung celana, dan tertawa kencang sekali. Rokoknya basah, rupanya dia lupa memindahkannya sebelum memutuskan lompat ke air tadi. Akhirnya dia hanya bisa mencari sedikit cahaya sore untuk menjemurnya, yang percuma. Matahari sebentar lagi tenggelam. Warna jingga di sebelah barat sudah muncul sedari tadi.

”Tulang (2)! Tulang! Cepat pulang, cucu tulang tadi tenggelam!” Seruan dari tengah Toba membuatku terperanjat. Begitupun pemuda di sebelahku yang menoleh ke arahku. ”Ini kerudung merahnya jatuh di tepi Toba,” tambahnya sambil melambai-lambaikan kerudung merah yang tadi pagi cucuku kenakan.

”Opung?” perkataan pemuda itu terdengar menggantung di telingaku. ”Jadi?”

”Bodoh! Kau itu buta warna. Pantas saja merah kau bilang hitam!” Segera kudorong perahu ke tengah dengan terburu-buru. Sedang pemuda itu mengikuti sambil terus meminta maaf.

-end-

1). Kakek.
2). Paman.
(CMIIW)

*Ditulis untuk #15HariNgeblogFF #day4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s