Pagi Kuning Keemasan

Cahaya terang perlahan bersinar dari arah timur. Menyiluetkan gumpalan-gumpalan awan menjadi hitam, kemudian semakin terang hingga awanpun kelabu saat matahari meninggi. Kubidikkan kameraku berkali-kali, lagi, lalu lagi, meskipun hasilnya masih sama saja.

Tenda abu-abu di sebelah tenda hitam milikku, terbuka. Seseorang dengan wajah bantalnya keluar, memerlihatkan senyum ceria yang sejak kami bertemu kemarin, terus dia sunggingkan.

”Kamu melewatkan ini,” ucapku sambil memberikan kamera di tanganku. Rambut hitam sebahunya terlihat agak kusut. Jaket abu-abu yang dia kenakan masih sama seperti kemarin, meski ada beberapa lipitan sisa tidur semalam.
Ransel hitam berukuran sedang, mengintip dari balik punggungnya, mengingatkan lagi tentang pertemuan kami berdua.

”Kamu suka?” Tanyaku sambil menggerakkan sesaat tanganku di depan dada. Dia menatapku dengan mata hitam bulat yang semakin bulat saat dia mengangguk. Ibu jari dan jari tengah tangan kanan ditempelkan di atas dada, lalu ditarik ke depan sampai mereka bertemu (1)–sama seperti yang kulakukan.

Di dermaga kemarin, dia tampak kebingungan. Tangannya menunjuk-nunjuk mercusuar di pulau sebrang sana pada penduduk sekitar. Aku sempat mengabaikan pemandangan itu, niat mencari jawaban Tuhan kurasa masih jauh lebih penting. Mencari Tuhan, mencari keajaiban, mencari keadilan-Nya, mencari alasan kenapa duniaku setiap hari hitam dan kelabu.
Kuputuskan–akhirnya untuk mendekat padanya. Wajahnya sudah sangat putus asa, bahkan ada titik air di sudut mata bulat dan indah miliknya. Dia mendesah, lalu berbicara dengan sekuat tenaga sampai wajahnya memerah. Tanpa banyak bicara, kutarik tangannya menuju perahu yang sedari tadi sudah menunggu. Dia menurut. Wajahnya berubah bingung lalu menunduk berkali-kali saat aku mencoba menatapnya, bahkan dia lebih banyak menatap hamparan laut sepanjang perjalanan boat kami menuju Pulau Lengkuas.

Lamunanku buyar ketika kamera pocket berwarna hitam tiba-tiba saja disodorkan di depan mataku. Ibu jari lentik miliknya memencet-mencet tombol, memerlihatkan satu per satu foto di dalamnya. Mercusuar, bintang laut di atas pasir, terumbu karang di dalam air, batu granit besar berwarna hitam, perahu nelayan di atas hamparan air laut. Kalau mataku bisa melihat warna, pasti senyumku akan selebar senyum di bibirnya. Kalau aku kenal warna, aku pasti akan melonjak kegirangan melihat warna–yang dia sebut keemasan–di foto hasil bidikanku tadi.

Aku melihat ketidak adilan lagi. Atau ini yang dimaksud dengan ‘Adil’? Bahwa tidak ada yang sempurna? Raut wajah cantiknya pasti membuat laki-laki normal jatuh cinta, senyum yang tak pernah putus dari bibirnya menciutkan angkuh di diri manusia lemah sepertiku. Mungkin ini jawaban Tuhan mengenai pertanyaan menyebalkan, yang selalu kulayangkan sejak aku membuka mata di tiap hariku. ”Kenapa aku buta warna?”

Aku menengok ke tempatnya duduk di depan tenda. Membalas tatapan heran dengan alis yang dinaikkan di wajahnya. Kemudian tangan kanan kuangkat lalu mulai kugerak-gerakan jarinya dengan cepat:

– Tiga jari tengah dilipat. Kelingking dan ibu jari berdiri.
– Ibu jari dan telunjuk membentuk lingkaran, lalu yang lain mengikutinya.
– Kelingking, jari manis, dan ibu jari dilipat. Jari tengah dan telunjuk berdiri.
– Jari tengah dan telunjuk membentuk finger crossed.

– Melipat semua jari, dengan ibu jari sebagai tumpuan.
– Tiga jari tengah dilipat, kelingking dan ibu jari berdiri.
– Melipat semua jari, dengan ibu jari sebagai tumpuan.
– Tangan mengepal.

– Empat jari dilipat, menyisakan ibu jari yang berdiri.
– Telunjuk dan jari tengah membentuk finger crossed.
– Melipat semua jari dengan ibu jari sebagai tumpuan.

– Empat jari berdiri, sedang ibu jari agak condong ke dalam.
– Semua jari dilipat dengan ibu jari sebagai tumpuan.
– Empat jari dilipat, menyisakan ibu jari yang berdiri.
– Jari kelingking, jari manis dan ibu jari dilipat. Telunjuk dan jari tengah berdiri.
– Semua jari dilipat, dengan ibu jari berada di sela antara telunjuk dan jari tengah.
– Suit semut (hanya kelingking yang berdiri).
– Telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran, dengan tiga lainnya mengikuti (seperti tanda OK).
– Jari manis, kelingking dan ibu jari dilipat. Telunjuk, jari tengah berdiri.
– Telunjuk dan ibu jari berdiri, tiga lainnya dilipat.
(2)

Tidak ada makhluk-Nya yang sempurna.

-end-

Footnote:
1). Suka (dalam bahasa isyarat)
2). Your eyes are beautiful (bahasa isyarat menggunakan jari)

*ditulis untuk #15HariNgeblogFF2
Correct me if i wrong. Thank you.

Advertisements

4 thoughts on “Pagi Kuning Keemasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s