[review] Age of Youth

CqyXUvgUIAAC1df

Bagi yang follow Twitter aku, pasti udah nggak asing sama k-drama yang satu ini. Kenapa dibahas terus? Nah ini, yuk bahas di sini!

Suka nonton k-drama belum lama sebenernya. Sejak One Direction hiatus, dunia sepi banget rasanya. Terus iseng-iseng nonton channel yang nayangin program di Korea Selatan sana, bablas deh keterusan.

Setelah nonton Signal–yang mana ini jadi drama favorit di sepanjang sejarah nonton drama korea, nggak sengaja ngeklik Age of Youth (AoY). Iseng juga, sih. Awalnya ngira AoY ini drama lucu-lucuan, light genre drama, lah. Setelah ditonton aku terguncang, pemirsa!

Intinya, AoY ini cerita 5 cewek yang hidup di share house namanya Belle Epoque. Kos-kosan kalau di sini nyebutnya, tapi yakin deh pasti pengen tinggal di Belle Epoque kalau udah lihat rumahnya kayak apa. Apa sih yang dipikirin kalau denger 5 cewek ngumpul? Ngegosip? Ngobrolin make up? Ngobrolin cowok? Sempit sekali duniamu, kisanak…

Cq0Cjh_VYAAfIIO

Yoon Jin-Myung (Han Ye Ri), Jung Ye-Eun (Han Seungyeon), Song Ji-Won (Park Eun-Bin), Kang Yi-Na (Ryu Hwa-Young), dan Yoo Eun-Jae (Park Hye_Soo) tinggal di satu atap. Di episode 1, point of view cuma ada di Yoo Eun-Jae sebagai mahasiswa baru yang berasal dari desa. Alasan kenapa AoY ini ngena banget itu karena realistis. Awkward, takut hidup bareng orang lain, kesel karena orang yang baru dikenal semena-mena sama kita digambarin jelas di karakter Eun-Jae ini. Eun Jae yang pemalu, lugu, dan susah ngomong terus terang jadi satu poin gimana AoY disebut relatable.

Di episode 2 udah mulai nyeritain point of view dari 5 cewek itu. Jin-Myung yang diceritain paling tua di sana, sibuk kuliah dan kerja paruh waktu. Dia selalu terburu-buru, berangkat pagi pulang malem banget. Jangankan ngobrolin cowok, napas aja kayaknya nggak sempet. Kalau lagi di bagian nyeritain dia, rasanya ikut stress. Ada yang bilang kalau karakter Jin Myung ini yang paling lemah karena dia nggak ada ups and down, down terus deh pokoknya. Tapi sungguh, Jin Myung ini cerminan banyak dari kita yang punya banyak beban di pundaknya dan nggak ada jalan lain selain survive.

Kang Yi-Na ini punya pacar 3. Ada yang nyebut dia sugar baby, dan hidupnya memang mewah karena disokong 3 pacarnya itu. Yi-Na punya karakter yang kalau ngomong nggak disaring, blak-blakan. Awal-awal dia kelihatan biasa aja, tapi lama-lama cerita di balik hidupnya ini yang paling menarik. Ya, kita nggak tahu di balik hidup orang yang kelihatannya baik-baik aja, ada luka apa nggak, jadi di-pause dulu coba yang udah keburu nge-judge. Dor!

Song Ji-Won malord! Ji Won punya karakter yang ruame. Dia yang jadi penyatu di antara 5 cewek itu. Dia yang ngerasa hidupnya biasa aja, nggak ada polisi tidur, dan susah nyari pacar karena dia selalu mendominasi obrolan.

Jung Ye-Eun ini karakter cewek yang gengges. Banyak yang nggak suka dia karena dia judgemental, holier than tho, dan punya kehidupan cinta yang ‘sempurna’. Kita paling nggak pernah punya satu temen yang kayak gini; dia yang ngerasa cewek harus dandan, punya pacar brengs*k tapi nggak ditinggalin no matter what.

Yoo Eun-Jae si pemalu. Tiap inget Eun Jae pengin cekikikan, lucu banget. Dia suka sama senior yang cheesy abis! Aku aja baru tahu ada makhluk macam dia hidup di bumi. Eun Jae bakal ngingetin kita ke cinta monyet yang kalau sekarang dipikirin, bakal ngakak heran.

Kayak yang udah dibilang tadi, AoY ini kayak drama lucu-lucuan. Ngarepnya ya ketawa-ketawa aja. Sampai Song Ji-Won ngaku bisa lihat hantu dan di depan lemari sepatu, ada 1 hantu. Di sini cerita mulai jalan. Tiap cewek udah mulai nebak-nebak kalau itu hantunya orang-orang yang ada hubungannya sama mereka.

Jin-Myung kerja mati-matian ternyata buat biayain adiknya yang udah koma bertahun-tahun, dan buat bayarin utang ibunya. Yi-Na nanggung rasa bersalah karena dia bisa selamat dari kecelakaan bertahun-tahun lalu, Ye Eun yang sebenernya nggak bahagia sama pacarnya, dan Eun Jae… yang ngerasa udah bunuh ayahnya. Light genre drama? WRONG!

Walau kelihatannya ini drama receh, dari segi cerita dan karakter juwara! AoY berani ngangkat isu-isu dari save sex sampai domestic violence. Bukan drama yang isinya orang kaya VS orang miskin, orang yang punya kekuasaan VS bawahannya, tapi drama yang ‘sekadar’ nyeritain kita. Orang biasa dengan berbagai masalah di belakangnya, orang biasa dengan lukanya masing-masing, orang biasa yang ada di sekitar kita. Tapi, ya, nggak tahu kalau ternyata kamu ada di sekitar pewaris perusahaan A atau keturunan keenam dari Si B hahahaha!

AoY bisa disebut menggabungkan 5 genre dari 5 cewek itu sebenernya. Kalau 5 cewek itu dipisah terus dibikinin 1 judul drama, bisa jadi 5 drama dengan karakter mereka masing-masing. Akting Han Ye-Ri jadi Jin-Myung, hampir nggak pernah senyum. Stresnya berasa banget, terus tunggu dia nangis deh. Di episode 4 dia nangis, crew di sana sampai pada ikut nangis. Ryu Hwa-Young yang masih baru di dunia akting ini juga effortless, dan setelah AoY tamat, doi langsung dapet peran utama. Wogh!

Park Hye-Soo yang ternyata jebolan Kpop-Star, udah pernah main di Yongpal. Oh, dia ngisi ost Lucky Romance (Sad Fate) juga. Sebagai yang paling muda, karakter lugu/naif dapet banget feel-nya. Tapi meski karakternya lucu, justru dia yang paling bikin aku takut di AoY. Dia punya rahasia yang baru kebuka di episode-episode akhir, dia yang kayak anak-anak ternyata di belakang, dia yang jaga ibunya. Dia yang ngurusin urusan ibunya, dia yang khawatirin ibunya, dia yang nanggung beban batin sementara ibunya tenang-tenang aja. Satu-satunya yang bikin otak nggak terlalu penuh cuma karakter Ji-Won. Setiap dia muncul, pasti ada hal aneh yang bikin ketawa. Dia ini mewakili cewek-cewek yang nggak pernah sedih, seneng ngomong jorok, dan nggak takut maju duluan ke cowok. Tapi di balik petakilannya JI-Won, dia bijak banget. Setelah analogi Anak Kembar-nya, banyak yang tertohok. Akting Park Eun-Bin ampun, deh. Nggak nyangka dia bisa segila itu, dan selain Hwa-Young, Eun-Bin juga langsung dapet project baru. Asik!

Nah, dialog-dialog di AoY juga quote-able banget. Nggak nyangka nonton drama lucu-lucuan malah end up stres mikirin hidup; “Gue udah ngapain aja selama ini?”; “Gue udah cukup bersyukur nggak?”. Kayak dijewer pakai cara halus. Dan karena karakter-karakternya orang biasa, jadi gampang ‘akrab’ kayak ke temen sendiri. Mereka sedih ikut nangis, mereka nge-down pengen meluk, mereka seneng ikut ketawa, mereka didzolimi pengen ngelindungin, AoY tamat kayak ditinggalin. Dan kayak naik roller coaster nonton drama ini. Bisa ketawa cekikikan nggak kelar-kelar, terus ngakak-ngakak sampai sakit perut, dibikin kesel sampai pengin banting laptop, dan bisa nangis-nangis parah.

Ketika dibilang AoY drama low budget karena pemerannya nggak ada yang terkenal (katanya), justru di sini AoY nggak ngejual pemainnya. Han Ye-Ri kurang apa coba, dia banyakan main di film yes. Sebelum AoY tamat aja filmnya (Worst Woman) rilis.

Spoiler buat episode terakhir: open ending!

Banyak yang nggak puas sama open ending karena merasa masih banyak yang harus diselesaiin. Tapi kalau dipikir lagi, ya ini kan yang namanya hidup? Banyak hal yang nggak bisa diselesaiin, apalagi umur mereka masih 20an. Hidup mereka nggak berhenti di episode terakhir. Dan open ending ini juga lah yang mengusik setelah AoY tamat sampai ditulis di blog, banyak hal yang muncul karena kita dikasih jalan buat mikirin kemungkinan-kemungkinan. Banyak yang bisa diambil dari Age of Youth, dan meski di atas disebut ada hantunya, ini bukan drama horor. Slice-of-life, begitu kata penontonnya.

Saking banyaknya yang mau ditulis, nggak berasa udah di atas 1000 kata. 4,5/5 stars buat Age of Youth yang underrated. Oh, satu lagi… SOUNDTRACKS-NYA JUWARA! (cek di sini)

Mengutip satu kalimat dari penonton AoY yang pas buat gambarin keseluruhan cerita:

” Age of Youth is about the hurts that haunt us.”

Cq1BaHxWIAAbcJs

Mudik 2016: Terjebak di ‘Brexit’

Ini bisa dibilang mudik yang memakan waktu paling lama seumur-umur aku kerja di Jakarta. Mari bagi menjadi dua bagian, agar kita bisa lihat dua point of view.

Dimulai dari perjalananku—kami sebagai masyarakat yang sama-sama melewati satu jalur yang akhirnya menahan kepulangan ke kampung masing-masing.

Aku mudik H-3, pas memang di hari Minggu. Terminal keberangkatan ada di daerah Tangerang Selatan, berangkat pukul 12.00 WIB teng! Jalanan juga udah lumayan lengang di depan kampus UIN yang biasanya jadi biang kerok kemacetan, karena 1). Depan kampus yang depannya ada rumah sakit, 2). Ada putarbalikan, 3). Beberapa meter ke depan ada belokan ramai ke arah Kampung Utan atau Bintaro.

Pasar Jumat, lancar. Masuk tol, lancar. Bahkan sampai gerbang tol Cikopo, nggak ada gangguan berarti. Jalanan masih lancar juga sampai gerbang tol Palimanan, dalam hati udah bersorak deh pokoknya. Rasa khawatir mulai berkurang, sejak berangkat pukul 12.00, sampai Palimanan menuju sore. Aku masih inget, buka puasa masih jauh dari exit Brebes-Pejagan. Sampai di sana udah mulai gelap. Di sini masih mikir positif, karena di depan bayar tol buat keluar Brebes, pasti lah ngantre, meski kanan-kiri, depan-belakang udah penuh kendaraan yang bisa dibilang berebut mau keluar.

Keluar gerbang tol, bus langsung berhenti total. Tadi aku bilang mau keluar tol mulai gelap, aku nggak ngitung berapa lama karena setelah bus berhenti aku ketiduran-bangun-ketiduran lagi, tahu-tahu sudah pukul 03.00 WIB. Dari aku buka puasa sampai sahur, bus itu masih diem di tempat. Mejik!

Jpeg
exit Brebes-Pejagan

Lajur kanan itu antrean menuju Brebes, keluar dari tol Cipali (kelihatan macetnya belum?). Busku ada di dalam antrean itu juga, dan kenapa fotonya diambil dari lajur kiri, nanti dijelasin di post selanjutnya.

Jpeg
Ini lah lajur kanan yang ada di foto sebelumnya (antrean keluar tol menuju Brebes)

Bus (semua kendaraan sih, kecuali motor yang bisa nyelip-nyelip) kami jalan dengan kecepatan 0 km/jam. Oke, jalan 2 meter, terus berhenti 30 menit. Jalan 5 meter, berhenti 40 menit, on repeat sampai waktunya berbuka puasa aja masih di sana. Kurang keren apa lagi, sahur-buka puasa di Brebes. Skenario terburuk dari macet adalah kehabisan bahan bakar, dan bener aja solar habis. Dari 2 pom bensin kosong semua. Bus kami akhirnya memutuskan untuk parkir di rumah makan, sementara kondektur nyari solar. Di rumah makan itu dari menjelang isya, harapan satu-satunya cuma kondektur yang lagi nyari solar itu.

Sampai pukul 22.00 WIB, kondektur masih belum nemu juga solarnya. akhirnya dia ikut bus lain yang, nebeng sekalian bus itu jalan sambil nyari pom bensin. Skenario terburuk kedua adalah, kondektur nggak nemu solar. Bahkan sampai pukul 02.00 WIB (Selasa dini hari), kondektur nggak ada kabar apa-apa. Penumpang inisiatif kasih saran untuk tetap lanjutin perjalanan dengan solar seadanya, urusan habis bahan bakar nanti dipikirin sambil jalan. Sopir menyanggupi tapi dengan syarat AC dimatiin demi menghemat solar, kami setuju. Bus pun berangkat 30 menit kemudian.

Lepas dari jalur Brebes, agak lancar jalannya sampai aku ketiduran. Antara jalan lancar atau capek aja, sih hahahaha! Kebangun di tengah-tengah sawah, di jalur Tegal. Macet, lagi.

Blog3[1]
ini lokasinya (bisa dilihat jam di kanan atas)
06.33 WIB, Selasa pagi masih di Tegal. Ritme-nya 11-12 juga sama di Brebes; jalan 5 meter, berhenti 30 menit. Tapi kekhawatiran lebih ke solar bisa bawa kami sampai mana, takut pas habis pas belum nemu pom bensin. Update: kondektur yang nyari solar dari kemarin malam, belum juga nemu. Allahuakbar!

Di Tegal, kami bertahan dengan pertolongan solar milik warga lokal yang akhirnya dibeli. Sampai Prupuk, kami ketemu kondektur di pom bensin, saudara-saudara! Udah dzuhur kemungkinan di sana, syukurnya lalu lintas ramai lancar jadi dengan penambahan solar dari kondektur, kami bisa bernapas dengan tenang.

Sampai Bumiayu Maghrib, yang juga bertepatan dengan akhir bulan ramadan. Mimpi bisa sahur dan buka di rumah, kandas. Aku 3 kali buka puasa, 2 kali sahur di jalan, dan belum juga sampai rumah.

Setelah perjalanan panjang dari Tangerang selatan (Minggu, 12.00 WIB), sampai di rumah Selasa malam, pukul 22.00 WIB. Mudik tahun ini, pulang di malam takbiran.

[book review] Goosebumps: Misteri Manusia Salju

615163005_goosebumps_misteri_manusia_salju_the_abominable_snowman_at_pasadena_cetak_ulang_cover_baru
source: Gramedia

Judul: Misteri Manusia Salju

Penulis: R.L. Stine

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 168+ halaman

ISBN: 978-602-03-1706-9

Blurb:

Kakak beradik Nicole dan Jordan Blake sudah muak dengan cuaca panas di Pasadena. Seumur hidup mereka belum merasakan musim dingin. Karena itu mereka sangat ingin, sekali saja, bisa merasakan musim dingin. Musim dingin sungguhan dong, lengkap dengan hujan salju! Dan tiba-tiba keinginan itu menjadi kenyataan. Bersama Dad, mereka pergi ke Alaska. Betapa malangnya Jordan dan Nicole.  Mereka hanya ingin melihat salju, tapi malah diburu makhluk raksasa. Monster berbulu, dikenal sebagai si Manusia Salju yang mengerikan! Apakah mereka juga akan lenyap begitu saja, seperti yang dialami beberapa penduduk yang bertemu monster menyeramkan itu?

Review:

First impression buat Misteri Manusia Salju ini bisa dibilang menarik. Bukan karena apa-apa, tapi karena pamor Goosebumps yang udah kayak kepiting saus padang terkenalnya (analogi macam apa pula). Penasaran apa sih yang ada di dalamnya, bener-bener bikin merinding, nggak?

Setelah buka halaman pertama, bahasanya enteng bener. Khas buku-buku terjemahan, sih. Jadi lancar-lancar aja bacanya, minim kesalahan tulis pun. So far nggak keganggu sama typo. Karena enteng, jadi nggak perlu meres otak buat mikir. Banyak yang besar dengan seri Goosebumps ini, kalau dilihat dari isinya sih memang cocok. Kebetulan aku kecilnya tinggal di daerah, jadi nggak punya kesempatan baca seri ini. Ketemu perpustakaan baru pas SMP dan langsung dihajar teenlit dan seri Harry Potter (lucky me!)
Diceritakan dari POV 1, yaitu Jordan Blake itu sendiri, bikin kita ngerasa langsung mengalami kejadian di dalam buku. Dengan ide utama tentang manusia salju, kita bakal dibawa ke Alaska dengan tundra-nya yang luas. Mencari manusia salju yang masih abu-abu keberadaannya, sambil menebak-nebak arah ceritanya ke mana. Ending? Gantung! Paan. *lah* :))

Terakhir, izinkan saya mengutip quote yang sangat amat bermanfaat dari salah satu percakapan di Misteri Manusia Salju ini:

Hah?

Sekian.

[bookshow] Maryam dan Ilustrasi Penokohan

IMG-20160316-WA0012

 

Setelah launching di akhir bulan Januari, di tanggal 20 Maret lalu akhirnya diadakan juga bookshow-nya. Apa aja, sih, kegiatannya? Yuk, coba kita simak!

Bertempat di Tomyam Kelapa, tepatnya di Jalan Sulawesi Barat RT. 08/011 (Villa Bintaro Indah, pas di pintu masuknya) Jombang, Ciputat, yang mana adalah markasku sendiri di Tangerang Selatan. *eaa* , bookshow dimulai pukul 14.00 WIB. Agendanya adalah membahas ilustrasi dan penokohan yang ada di buku kumcer Hilangnya Maryam dan Perkara-perkara Lain.

Jpeg
tomyam kelapa yang terkenal ituh!
IMG-20160320-WA0010
baru dateng langsung makan, demi perdamaian dunia!

Selain itu, ada juga lomba live tweet yang berhadiah novel O-nya Eka Kurniawan, dan jangan lupa bookswap! Aku berangkat dengan dua kardus buku kiriman dari Fiksimetropop khusus untuk acara bookshow ini.

6d57a3ca8753dbf766a1f02b86e69c77
buku dari Fiksimetropop di meja bookswap

Pembicaranya pun nggak main-main. Di ilustrasi, ada Dy Lunaly, penulis yang juga illustrator sampul dan 12 ilustrasi lain di dalam buku itu sendiri. Dari penokohan, ada Pringadi Abdi Surya, penulis dan juga editor di penerbit Exchange. Perserta udah, pembicara udah, panitia/(sebagian) penulisnya juga udah stand by.

Dimulai dari membicarakan ilustrasi, Dy Lunaly tampaknya mengalami sedikit kesulitan karena saat penulis menggambarkan isi cerpennya, ada yang terlalu detail dan juga terlalu umum.
Ada juga yang berkali-kali revisi karena menurut penulisnya belum pas dengan apa yang ada di kepalanya. Ketika ditanya, ilustrasi mana yang paling memuaskan, Dy menyebut warna nila dan hitam. Warna nila digambarkan perempuan bergaun bunga, sesuai dengan permintaan penulis. Sedang warna hitam karena Dy sendiri suka yang berbau-bau psikologi, jadi ilustrasi dua wajah warna hitam terasa istimewa.

Jpeg
Dy Lunaly membahas ilustrasi dengan Danis Syamra

Di sesi topik penokohan, Pringadi Abdi Surya menjelaskan bagaimana membangun tokoh di dalam tulisan. Penokohan yang kuat itu sangat penting agar alur cerita menjadi lebih menarik dan pesan di dalam ceritanya tersampaikan, begitu Pringadi menjelaskan. Ketika menulis, awali dengan detail karakter. Karakter ini adalah sekumpulan informasi, tapi bukan sekadar deskripsi fisik. Karakter adalah persona, sedang persona adalah topeng; apa yang ditampilkan, berbeda dengan aslinya agar menjadi kejutan. Karakter adalah plot, plot adalah karakter karena karakter unik saja nggak cukup.

IMG-20160320-WA0035
Mandewi memoderatori sesi penokohan bersama Pringadi

Sambil menyimak, kami juga disuguhi camilan dari Kue Cubit Genit yang genit beneeerrr warna dan topingnya. Gemees!

a35cd984781ac1d421ea4c1b6417966d_1
genit, kaaann?

Dari bookshow ini juga, kami mendapat banyak ilmu mengenai editing. Kalimat pertama di setiap ceritamu yang sangat penting untuk benar-benar dipikirkan, kata Pring, juga tips untuk menembus penerbit major. Rasanya nggak cukup ditulis dalam satu blog post memang, kapan-kapan lagi, deh!
Sebelum sesi penokohan dan editing berakhir, Pringadi memberi wejangan *halah* untuk kami semua bahwa “Tidak ada karya yang buruk, yang ada hanya penulis yang buruk”.
Sebelum pulang, tentu ada oleh-oleh. Pouch dari Uluwala ini berisi buku-buku dari Linebookshop, yang bisa dibawa pulang. Sering-sering aja kali ya, bikin acara, biar isi rak buku nambah otomatis.

Uluwala[1]
pouch dari Uluwala berisi buku-buku dari LineBookshop
Terakhir, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang berpartisipasi dalam acara bookshow Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara lain. Sponsor, peserta, panitia, penulis yang hadir, juga penulis yang mendoakan dari jauh, terima kasih banyak.

Processed with VSCO with a6 preset

IMG-20160320-WA0030
bersama narasumber selepas acara

(Buku) Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain

IMG-20160202-WA0010[1]

 

1. Berbicara Perempuan
Dari satu tema, akhirnya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” jadi sebuah buku yang berisi 12 cerpen. Soal perempuan, mungkin banyak yang harus dibicarakan, ya? Dari penampilan sampai sifat yang biasanya digeneralisir. Tapi toh, banyak yang belum diketahui perihal isi kepala perempuan. Ada yang memang rumit, ada yang rumit banget. *lah*
Pas diajak buat bikin cerpen bertema perempuan, awalnya ragu, sih. Takut nggak bisa nulis yang diatur ini-itunya, dan setelah dikasih tema memang blank beberapa lama. Nggak tahu mau nulis apa, terlebih saat itu lagi di keadaan yang nggak bisa mikir. Untungnya mikir pakai otak, nggak pakai hati yang lagi hancur. *eaa*
Dari 12 penulis (Cappucinored, Danis Syamra, Harninda Syahfitri, Petronela Putri, Carolina Ratri, Irfan Harry, Mandewi, AA. Muizz, Putri Widi Saraswati, Uni Dzalika, Sulung Lahitani, dan aku sendiri), 12 tema akhirnya tersusun. Mengenai perempuan, mengenai masalah yang kerap dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Bercerita bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka menolong diri mereka sendiri. Nggak ada yang tahu batas kekuatan perempuan sampai di mana, bahkan perempuan terkuat pun, mungkin belum menampakan semua kekuatannya.

2. Mencari Maryam ke Rawamangun

IMG-20160124-WA0010

Setelah lama menunggu terbitnya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain”, akhirnya kami mendapat kesempatan membuat mini launching yang disepakati diadakan di Jung Coffee di daerah Rawamangun.
Awal dengar kata Rawamangun yang kepikiran cuma… jauh. Hahaha! Tangerang Selatan ke Rawamangun sudah kayak beda galaksi. Jakarta bagian Timur mungkin paling jarang dikunjungi, dan aku sama sekali buta jalan ke sana.
Plan A: naik APTB Ciputat – Kota, turun di halte TransJakarta di Dukuh Atas, lanjut Transjakarta jurusan Pulogadung.
Plan B: naik kereta dari stasiun Sudimara, transit di Tanah Abang dan Manggarai, terus naik ojek online.
Kelihatan lebih simple Plan A, tapi akhirnya pakai Plan B karena ada temen. Hahaha yeay! Nggak apa-apa nyasar, asal nggak sendiri.
First impression Jung Coffee ini dilihat dari depan kayak rumah, bukan macam coffee shop yang akhir-akhir ini muncul dengan tema-tema tertentu. Belakangan tahu kalau konsepnya memang begitu. Bahkan nasi goreng di sana dibuat dengan rasa yang rumahan.
“Biar pada kangen rumah,” kata owner-nya.
Menohok ya, Kak. Aku jadi pengin kabur dari kerjaan buat pulang kampung. *ditabok bos besar*

Rencana awal mau nyarap dulu, berhubung perut belum diisi sama sekali dan lihat menunya kok menarik juga murce alias murah. Realitanya, Cuma pesan lemon tea hangat. Itu pun udah dekat-dekat acara mulai. Ini lucu, soalnya aku bangun pagi buat bikin sarapan orang tapi akunya sendiri malah nggak makan. Dan beneran nggak sempat makan sampai pulang. Mungkin ini pertanda biar balik lagi ke sana.

3. Yang dibicarakan bersama Maryam

PSX_20160131_202433
Acara dimulai dari pembacaan penggalan cerita “Lelaki yang Kupeluk Punggungnya” milik Teh Windri Fitria (@cappucinored) oleh Edoy dari Malam Puisi Jakarta yang tanpa disangka, beliau sudah menyiapkan puisi balasan untuk cerpen tersebut. Aaakk keren!
Lalu ada presentasi dari TravelioId,

12647364_10205639433046969_8685036116213201379_n

dan SCOOP yang ikut mendukung acara mini launching hari itu, dengan banyak hadiah tentu.

12573119_10205639415766537_4635717443962185037_n
Lalu obrolan dimulai dari asal-muasal terciptanya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain”. Dari ide mentah sampai terbit di penerbit indie. Kok indie? Ada faktor kenapa #HilangnyaMaryam nggak terbit secara major, dikupas tuntas di sana. Apa perbedaan menerbitkan buku secara independent dan major pun dibahas, sampai menguliti para penulis mengenai ide cerita; hambatan dalam menulis; dan perintilan-perintilan lain.
Overall, acaranya seru banget. Diskusi buku dan dunia kepenulisan memang nggak ada habisnya. Di sana, kami bertukar pikiran dan pengalaman. Ada banyak penulis dan blogger yang hadir, dan ini sangat bikin tersanjung karena acara diadakan hari Minggu pagi. Di saat lebih enak bangun siang—apalagi hari itu turun hujan—para tamu malah menyempatkan ikut mencari #HilangnyaMaryam.
Kebetulan aku yang handle sebagian tamu, dan perjuangan mereka untuk sampai di mini launching “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” sungguh patut diapresiasi. Terima kasih, yang sudah hadir. :*

4. Maryam untuk Yayasan Kanker Anak
Pembicaraan awal tentang diciptakannya kumcer ini memang sudah diniatkan untuk donasi. Kami berangkat dari satu komunitas Bookaholicfund yang awalnya melakukan kegiatan lelang buku untuk amal. Setelah dipikir-pikir, kenapa nggak bikin buku? Toh, kami juga biasa menulis. Kami juga berkumpul karena hobi dan kecintaan yang sama pada buku dan kegiatan tulis-menulis.
Ketika kumcer #HilangnyaMaryam akhirnya terbit, kami masih dan tetap dengan niatan yang sama. Jadi, seluruh royalti penjualan akan didonasikan untuk yayasan kanker anak melalui Komunitas Taufan.
Pre-order gelombang pertama Alhamdulillah sukses. Dan sekarang sedang diadakan pre-order gelombang kedua yang akan berakhir tanggal 7 Februari. Untuk kamu yang tertarik ikut pre-order, bisa menghubungi Danis.
Atau mau pesan sendiri, boleh dong! Langsung ke Nulisbuku.com aja, ya!

IMG-20160124-WA0027

“Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” menunggumu dengan kisah-kisah para perempuan yang siap dimengerti. Yuk, order! Dan sampai ketemu di launching berikutnya.

 

-R-

Monolog Monolog

Ada aroma kopi di setiap langkahnya siang ini. Entah kemarin, mungkin besok sudah berganti aroma teh melati dari lemari dapur di rumahnya.
“Dia di mana?”
“Di Taman Menteng, lagi ada acara.” Jawabnya sambil tersipu dan sedikit kikuk.
Pernah ada yang jauh-jauh datang menemui hanya untuk mengucapkan selamat pagi, tapi kemudian pergi tanpa tahu kapan kembali. Tak ada yang pasti dari segala sesuatu selain ketidakpastian itu sendiri, katanya. Kemudian aku hanya menunggunya, berharap ada burung hantu membawa selembar pesan di antara kukunya.
“Tulislah sesuatu di sana.”
Aku tersadar. Seolah semua ruhku ditarik kembali dari masa lalu ke kedai kopi yang penuh obrolan dan suara tawa. Ada sebuah buku di atas meja, lalu dia memberi sebuah pena. Aku mengernyitkan dahi. Saat itu, aku menulis ketika sedang patah hati. Ada luka di tiap hurufnya, ada kenangan yang sengaja ditata menjadi kalimat agar mudah diingat. Lalu apa yang harus kutulis untuknya?
Dia menggeleng. Pandangannya seolah ingin berbicara ‘kau penulis, bukan? Jadi tulislah sesuatu.’ Tapi, yang terdengar hanya kalimat “Apa saja…”
Aku bisa menuliskan apa saja di sana kalau aku ingin. Jejak-jejak masa lalu yang tak mungkin diurut kembali ke asalnya, rupa-rupa buku yang tak pernah habis diceritakannya, atau langit senja yang selalu membuatnya gembira. Tapi yang ada di hadapanku siang ini, bukan tentang kemarin, melainkan besok. Bukan tentang aku tapi mereka, bukan juga tentang rasa sakit yang tak kunjung sembuh.

“Kapan dia berulang tahun?” tanyaku mengalihkan topik sebentar sambil mengetuk-ketukan pena di atas meja kayu.

“Tanggal 27 dan 28.”

“Baiklah, jadi pacarmu ada dua?” tuduhku.

“Dia satu-satunya,” dia menjawab tegas, “Ada kesalahan tanggal di kartu identitasnya, jadi dia punya dua tanggal lahir.”

Lalu hal-hal lain yang tak kutanyakan mengalir begitu saja. Begitu mudahnya memancing seseorang berbicara. Orang asing menjadi teman untuk menumpahkan semua dan tak ada rasa canggung atau takut dihakimi, karena mereka biasanya mendengar apa yang dibicarakan dan bukan siapa yang berbicara. Aku sering mengalaminya, aku juga sering menjadi orang asing yang mendengarkan mereka.

Pernah ada masa saat dia selalu ada di sana, mendengarkan di ujung sambungan telepon. Tak ada waktu yang terlalu malam, tidak juga batasan jam dan hari. Tapi kemudian dunia seolah diputarbalikan. Kini, setiap malam hanya tentang aku dan kenangan.
“Susah,” aku mengeluh sambil terus mencoba tertawa. Ini lucu. Aku bahkan kehilangan kata-kata yang harusnya bisa ditulis kapan saja kalau dibutuhkan. Aku sering menulis tentang patah hati, aku menandai kata kehilangan di dalam kamus. Otakku terus mencegah agar aku tak menuliskan sesuatu yang mengandung kesedihan untuk ulang tahun seseorang.
“Semoga yang ini tidak ketahuan seperti tahun lalu,” tambahnya. Sejenak aku berhenti berpikir dan menutup buku yang masih kosong untuk mendengarnya bercerita.
Kami semua tertawa. Banyak hal yang diutarakannya tanpa harus repot-repot bertanya untuk kedua kalinya, tapi tugasku belum selesai. Aku mencoba membuka halaman di dalam buku, berharap mendapat sesuatu yang bisa kukutip sehingga aku tak harus menguras otak. Aku juga mencoba mengulur waktu, menawarinya kopi sementara aku berpikir. Dia mengiyakan, tapi bahasa tubuhnya terlihat terburu-buru.
“Aku sudah bilang akan menyusulnya pukul empat tiga puluh. Tapi tak apa terlambat, aku sudah meminta maaf. Aku bilang, aku bisa saja tertidur dan baru bisa menjemputnya pukul lima,” tambahnya masih tersipu-sipu.
Jam di tanganku sudah pukul empat dan jalanan di Jakarta bukan sahabat untuk orang-orang yang sedang terburu-buru. Aku pernah menunggu seseorang tak kenal waktu; satu jam, dua jam. Aku masih terus menunggu burung hantu pembawa pesan, entah sampai kapan.
Akhirnya aku mengingat-ingat satu kalimat yang masih menempel di kepalaku. Kalimat itu ada di dalam buku entah halaman berapa, yang mengatakan bahwa bukan berapa lama atau siapa yang lebih dulu mengenal…tapi dia yang datang, dan tidak pergi.
Ketika punggungnya menjauh, aku tahu dia tak perlu membuatnya menunggu lebih lama di sana. Aku pernah ada di posisinya, menunggu dan menunggu, tapi dia memilih untuk melepaskan. Aku masih terus menunggu, tapi sepertinya sia-sia jika hanya aku yang yang bertahan sendirian..
Sepertinya dia akan tiba sedikit terlambat, tapi tak apa… paling tidak, kalian sudah saling menggenggam.

-R-

Flip- Flop dan Komedi

Perjalanan
Penulisan Flip-Flop lumayan lama. Karena aku sama Rido sama-sama sibuk (aku sibuk jadi kuli, Rido sibuk jadi seleb), prosesnya sempet molor. Aku jadi bawel nagih-nagih naskah, bawel nyindir-nyindir biar Rido sakit hati terus ngelanjutin nulis buat balas dendam, dan…. gagal. Usahaku sia-sia. Hiks. Tapi karena mungkin udah jalannya, ada aja yang maksa Rido nulis lagi. Pas banget ada satu penerbit yang ngadain lomba dan kebetulan naskah kami masuk kriteria. Dikebutlah lanjutan naskahnya oleh saudara Rido tersebut di atas, dan… kelar!
Dikirim ke penerbit.
Kalah.😦
Sempet kecewa, tapi manusiawi sih kalah terus kecewa. Aku udah siap-siap move on, udah mau nyari pelarian (eaa) ketika Rido bilang kalau naskahnya dikirim ke penerbit lain. Alhamdulillah ya, untungnya nih orang satu nggak nyerah. :))
Dan akhirnya, Flip-Flop bernaung di penerbit Elex Media Komputindo. Waktu itu judulnya bukan Flip-Flop, apa gitu (lah gaje). Judul Flip-Flop ini dapet setelah nanya ke temen yang mana nggak sepayah kami berdua dalam memilih judul (Thanks, Bimo!), dan tentu setelah dapet persetujuan dari editor (hai, Mbak Dita). Untunglah kami punya temen-temen yang baik dan mau ikut pusing mikirin judul, ikut digangguin buat disuruh voting judul mana yang lebih oke, juga punya editor yang terbuka buat ide atau usulan. Love you full lahhh!

Kenapa komedi?
Genre Flip-Flop nggak murni komedi. Teenlit dan romance masih jadi garis besarnya, tapi memang dibumbui komedi. Kenapa komedi? Karena genre komedi jumlahnya masih belum terlalu banyak kalau dibandingkan genre romance atau horor. Hitung-hitung ngasih variasi di antara novel yang galau, sedih, atau berhantu. Flip-Flop ditulis dengan ringan, dibumbui komedi biar nggak sedih terus. Tapi demi apa, ngelucu itu susah banget, pun dengan nulis genre komedi. Standar lucu tiap orang beda, kepleset dikit jokes-nya bisa jadi chrispy. Dan kami sadar, kami nggak mungkin bisa bikin semua orang ketawa. We tried. Kami selalu terbuka dan menunggu feedback dari pembaca, entah kritik atau saran yang mungkin akan dipakai untuk novel selanjutnya (aamiin).

Lain-lain
Flip-Flop bukan cuma karya aku dan Rido, tapi banyak campur tangan orang banyak di belakangnya. Keluarga, teman-teman (separuhnya ada di lembar ucapan terima kasih), editor, penerbit, secret admirer-nya Rido, fans-fansnya Rido, aku ucapkan terima kasih banyak buat semuanya.

Rido, makasih udah mau jadi parter duetku. Maaf kalau pernah ada kata atau sikap yang nggak berkenan selama proses penulisan sampai sekarang.
Terima kasih juga buat yang udah beli Flip-Flop, udah meluangkan waktu buat baca, buat review, buat ngasih rating, buat kasih kritik dan saran. Terima kasih banyak.
Terakhir, ada satu kalimat dari Raditya Dika yang selalu bikin mikir tiap kali keingetan. Ini diucapkan dulu, di satu workshop menulis beberapa tahun lalu.

“Jangan mencoba jadi yang terbaik, jadilah berbeda”

-R-